Mubtada'

Pendahuluan

Dalam tata bahasa Arab, i'rab adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari perubahan akhir kata berdasarkan konteks dan fungsinya dalam kalimat. Salah satu konsep dasar dalam i'rab adalah mubtada' (مُبْتَدَأٌ), yang merupakan elemen penting dalam struktur kalimat berita atau khabar . Pemahaman mendalam tentang mubtada' sangat diperlukan untuk menguasai pembentukan kalimat dalam bahasa Arab secara benar dan efektif. Artikel ini akan membahas secara rinci aspek-aspek i'rab terkait mubtada' , termasuk definisi, fungsi, i'rab, serta contoh penggunaannya dalam kalimat.

Definisi Mubtada'

Mubtada' secara etimologis berasal dari kata ibtida' (ابْتِدَاءٌ) yang berarti "permulaan" atau "awalan". Dalam terminologi nahwu, mubtada' adalah subjek atau pokok pembicaraan dalam kalimat berita (jumlah khabariyah ). Secara sederhana, mubtada' dapat diartikan sebagai sesuatu yang diberitakan atau menjadi inti dari suatu informasi. Ia biasanya diikuti oleh khabar (خبر), yaitu predikat atau pemberitaan yang menjelaskan mubtada' .

Contoh sederhana:

الْكِتَابُ جَدِيدٌ

****Artinya: "Buku itu baru."

Dalam kalimat ini, الْكِتَابُ adalah mubtada' , sedangkan جَدِيدٌ adalah khabar .

Fungsi Mubtada' dalam Kalimat

  1. Sebagai Subjek Utama : Mubtada' berfungsi sebagai subjek atau inti dari suatu kalimat berita. Ia menunjukkan apa atau siapa yang sedang dibicarakan.
  2. Menjadi Titik Awal Informasi : Mubtada' adalah elemen pertama yang disebutkan dalam kalimat berita, sehingga ia menjadi awal dari alur informasi.
  3. Penegasan Identitas : Dalam beberapa kasus, mubtada' digunakan untuk menegaskan identitas atau keberadaan sesuatu.

I'rab Mubtada'

Secara umum, mubtada' memiliki i'rab rafa' (رَفْعٌ). Hal ini karena mubtada' adalah subjek utama dalam kalimat, dan dalam tata bahasa Arab, subjek selalu berkedudukan rafa'. Tanda-tanda rafa' pada mubtada' bergantung pada jenis katanya:

  1. Isim Mufrad (Kata Benda Tunggal) : Ditandai dengan dhommah (ُ).

    Contoh: الْكِتَابُ جَدِيدٌ

    ****Di sini, الْكِتَابُ mendapatkan tanda rafa' berupa dhommah.

  2. Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan) : Ditandai dengan wawu (و).

    Contoh: الْمُدَرِّسُونَ فِي الْمَدْرَسَةِ

    ****Artinya: "Para guru ada di sekolah."

    Kata الْمُدَرِّسُونَ mendapatkan tanda rafa' berupa wawu .

  3. Isim Ma'tsur (Kata Benda yang Mengakhiri Huruf 'Ain) : Ditandai dengan alif (ا).

    Contoh: هَذَا قَلَمٌ

    ****Artinya: "Ini adalah pena."

  4. Fi'il Madhi (Kata Kerja Lampau) : Jika mubtada' berbentuk fi'il madhi, ia tetap berkedudukan rafa', namun tidak memiliki tanda rafa' khusus karena fi'il madhi selalu berkedudukan jazm.

  5. Kata Ganti (Dhamir) : Jika mubtada' berupa kata ganti, maka kedudukannya tetap rafa', namun tidak memiliki tanda rafa' fisik.

    Contoh: هُوَ طَالِبٌ

    ****Artinya: "Dia seorang siswa."